UPTD BBI SICINCIN DALAM GERAKAN PAKAN IKAN MANDIRI (GEPARI)
UPTD BBI  SICINCIN DALAM GERAKAN PAKAN IKAN MANDIRI (GEPARI)

Tanggal post: 29-12-2017, Jam 04:38 WIB | User: Kpsdkp


Tidak dipungkiri, bahwa pemenuhan kebutuhan ikan bagi masyarakat di Sumatera Barat maupun di Indonesia, semakin mengandalkan produksi dari kegiatan budidaya.  Hal ini dapat dimaklumi, karena pada beberapa tahun terakhir ini, aktivitas penangkapan ikan dihadapkan pada kondisi ketersediaan populasi ikan yang semakin menurun, sehingga produksinya relatif stagnan.  Secara teknis berbagai komoditas ikan yang digemari masyarakat telah berhasil dibudidayakan dan secara ekonomis juga cukup prospektif.

Ikan hasil budidaya memiliki keunggulan antara lain ukurannya relatif seragam, kesinambungan produksinya lebih terjamin, dan jenisnya juga dapat disesuaikan dengan permintaan.  Secara ekonomis, pengembangan budidaya perikanan di berbagai daerah telah memberikan dampak positif bagi peningkatan pendapatan masyarakat, dan secara strategis dapat meyediakan lapangan kerja yang cukup banyak, serta bisa menjadi lumbung protein hewani bagi masyarakat.

Selain akibat dari semakin meningkatnya permintaan ikan, perkembangan  budidaya perikanan di Indonesia dipercepat oleh meningkatnya animo masyarakat, ketersediaan sumberdaya lahan dan air, tersedianya benih ikan dan sarana produksi lainnya, serta makin terbukanya aksesibilitas ke sentra produksi.

Berbagai kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah juga memberikan iklim yang kondusif untuk pengembangan budidaya perikanan di berbagai wilayah.  Namun demikian pengembangan budidaya perikanan masih dihadapkan pada tantangan yang perlu mendapat perhatian dalam penanganannya, termasuk diantaranya penyediaan pakan yang berkualitas dengan harga  terjangkau.

Pakan Ikan Sebagai Faktor Pembatas

Perkembangan budidaya perikanan secara langsung membutuhkan pasokan berbagai sarana produksi dalam jumlah dan mutu yang memadai, seperti benih ikan, peralatan dan mesin, obat-obatan dan yang paling penting adalah pakan dengan jumlah yang cukup dan harga ekonomis.

Dari berbagai jenis sarana produksi yang dibutuhkan tersebut, pakan ikan merupakan komponen yang sangat penting dalam mendukung efisiensi biaya produksi.  Kalkulasi secara umum, memberikan keterangan bahwa komponen pakan memberikan kontribusi  cukup besar (50-70%) terhadap total biaya produksi budidaya ikan.  Prosentase kontribusi pakan tersebut berkaitan erat dengan intensitas pembudidayaan ikan yang dilakukan.  Semakin intensif pembudidayaan ikan yang dilakukan, kontribusi pakan pun semakin meningkat dan sebaliknya.

Mempertimbangkan peran strategis pakan terhadap biaya produksi tersebut, menjadikan pakan sebagai faktor pembatas dalam budidaya perikanan.  Bila pakan dapat tersedia dalam jumlah dan kualitas yang mencukupi serta harganya ekonomis, maka peluang pengembangan budidaya perikanan menjadi semakin terbuka.

Pakan ikan yang digunakan dalam kegiatan budidaya ikan air tawar maupun air payau sebagian besar dalam bentuk pelet hasil produksi pabrikan; Ketersediaan pakan untuk kegiatan budidaya perikanan seringkali belum sepenuhnya memenuhi kriteria lima tepat, yaitu tepat mutu, tepat jumlah, tepat tempat, tepat jenis dan tepat harga.  Secara mutu, pakan jenis pelet yang diproduksi oleh pabrik sebagian besar dinilai sudah mengandung nutrisi sesuai persyaratan yang tercantum dalam SNI.  Pengakuan akan hal ini dibuktikan dalam bentuk terdaftarnya pakan produk pabrikan yang beredar di pasaran.  Namun demikian biasanya pakan yang memenuhi kriteria teknis tersebut harganya dinilai kurang ekonomis, dalam arti tidak dapat memberikan keuntungan usaha yang memadai. Untuk menyiasati hal ini, terkadang para pembudidaya mengusulkan kepada produsen pakan, agar disediakan pakan murah, walaupun nutrisinya tidak memenuhi kriteria teknis sebagaimana dipersyaratkan.   Tentunga penggunaan pakan jenis demikian kurang memberikan hasil yang baik.  Selain masalah mutu, tantangan lain dalam penyediaan pakan adalah keterbatasn distribusi ke kawasan budidaya perikanan, terutama belum baiknya prasarana dan sarana transportasi, sehingga menyebabkan melambungnya harga pakan.  Hal ini berakibat lanjut pada semakin kurang ekonomisnya pakan yang tersedia.

Berkaitan dengan penyediaan pakan oleh pabrikan, pakan yang merupakan sarana produksi utama, dalam pembentukan harganya lebih banyak ditentukan oleh pihak pemasok (pabrik dan pedagang pakan).  Sementara itu, bila pembudidaya menjual ikan hasil produksinya, maka pembentukan harganya ditentukan oleh pihak pembeli.  Dengan demikian, pembudidaya tidak memiliki posisi tawar yang kuat, senantiasa berada dalam dua sisi tekanan ekonomis yang kuat, baik di sektor hulu maupun hilir.   Berangkat dari kondisi ini, bila pembudidaya lebih mengandalkan pasokan pakan dari produksi pabrikan, seringkali usaha yang dilakukan tidak memberikan keuntungan yang optimal, karena margin keuntungannya sangat kecil.

Untuk mengatasi masalah ini, perlu dicari alternatif dalam penyediaan pakan yang memenuhi kriteria lima tepat, sehingga dapat mendukung perkembangan budidaya ikan yang menguntungkan.

UPTD BBI Sicincin Dalam Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GEPARI)

Sebagaimana telah diungkapkan di atas, bahwa penyediaan pakan ikan oleh industri pakan belum sepenuhnya memberikan kontribusi bagi peningkatan keuntungan usaha secara optimal bagi pembudidaya.  Harga pakan yang cenderung merangkak naik dari waktu ke waktu sedangkan harga ikan hasil budidaya relatif stagnan, telah mengggerus margin keuntungan yang didapat pembudidaya.  UPTD BBI Sicincin  dengan menggalakkan pengembangan pakan ikan mandiri oleh para pembudidaya yang tergabung dalam kelompok pembudidaya ikan (pokdakan).  Pengembangan pakan mandiri memiliki kelebihan sebagai berikut:

  1. Dapat dihasilkan pakan berkualitas dengan harga terjangkau, karena dalam proses produksinya dapat dilakukan penghematan biaya produksi dan transportasi.
  2. Dapat dihasilkan jenis dan kualitas pakan sesuai dengan kebutuhan ikan yang dibudidayakan;
  3. Sebagian bahan baku pakan dapat disiapkan masyarakat di sekitar kawasan pembudidayan ikan, sehingga memberikan peluang harga bahan baku lebih terjangkau;
  4. Dapat dilakukan penghematan biaya produksi antara lain dengan penghematan biaya tenaga kerja (proses pembuatan pakan dilakukan oleh pembudidaya) dan biaya distribusi (karena proses pembuatan dilakukan di lingkungan pembudidayaan ikan)

Menyikapi Tantangan Dalam Pengembangan Pakan Ikan Mandiri

Suatu kegiatan strategis dan besar, biasanya dihadapkan pada tantangan yang besar pula, demikian pula dalam pengembangan pakan ikan mandiri.   Berdasarkan analisisa UPTD BBI Sicincin, berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengembangan pakan mandiri antara lain meliputi: ketersediaan bahan baku, dukungan sarana prasarana, ketersedian SDM, persepsi masyarakat, kesiapan teknologi, konsistensi dalam produksi, dan dukungan dari pemerintah / pemerintah daerah.