KKP RI ADAKAN PENGAWASAN DAN SOSIALISASI BIOTA DI PERAIRAN LAUT YANG DILINDUNGI (DUGONG) DI UPTD PPP SIKAKAP
KKP RI ADAKAN PENGAWASAN DAN SOSIALISASI SOSIALISASI BIOTA DI PERAIRAN LAUT YANG DILINDUNGI (DUGONG) DI UPTD PPP SIKAKAP

Tanggal post: 19-09-2017, Jam 04:17 WIB | User: Sikakap


Sikakap (19/09/2017), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut (Direktorat KKHL) telah melakukan upaya konservasi terhadap biota perairan dilindungi dan/atau terancam punah di Indonesia. Kegiatan ini dalam rangka peningkatan pengawasan dan sosialisasi biota di perairan laut yang dilindungi khususnya mamalia dugong dan padang lamun di perairan kepulauan mentawai, sikakap. Upaya ini dilakukan karena telah ditemukan di perairan sikakap mentawai pelaku perburuan dugong. Pengakuannya sudah 112 ekor dugong yang di bunuh untuk di jual dan di konsumsi. Berat 1 ekor dugong kira 100-300 kg di jual dengan harga 30 ribu/kg. di masyarakat mentawai dugong ini dikenal dengan nama sakoilok koat atau babi laut serta telah terjadi perusakan padang lamun di wilayah perairan pulau pagai utara selatan (Sikakap)

Dugong juga disebut Duyung merupakan mamalia laut yang bergerak lambat, lemah lembut dan satu-satunya satwa ordo sirenia yang tinggal di laut lepas. Dugong berumur panjang hidup sampai 70 tahun, berukuran besar panjang tubuh mencapai 3 meter dan berat mencapai 450 kg, mampu menahan napas didalam air selama 3-12 menit sambil mencari makan dan berenang dan pemakan lamun. Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang berkumpul dalam bentuk seperti padang rumput di dasar perairan pesisir yang dangkal. Lamun tersebar hanya 0,2 % dari seluruh perairan di planet bumi, mampu menyimpan lebih dari dua kali jumlah CO2 yang disimpan oleh hutan di darat dan mampu menyaring limbah dan menjaga kualitas air laut (DSCP, Indonesia).

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 13 September 2017 bertempat di Aula UPTD PPP Sikakap, hadir pada kegiatan ini Kepala UPTD PPP Sikakap Bapak Wawa Wahyudi,  Kasubdit Perlindungan dan Pelestarian Jenis KKHL KKP RI Bapak Syamsul Bahri Lubis, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Mentawai Bapak Hardimansyah, Kepala BPSPL Padang Bapak Muhammad Yusuf, Dugong And Seagrass Conservation Project (DSCP-Indonesia) Bapak Setiono, para penegak hukum Polsek, Dendramil, KAMLA kecamatan sikakap, para MUSPIKA kecamatan sikakap, tokoh agama, tokoh masyarakat serta masyarakat nelayan kecamatan sikakap. Kegiataan ini bertujuan untuk penyampaian kebijakan pemerintah dan kebijakan internasionalnya tentang biota yang dilindungi dan terancam punah termasuk dugong dan padang lamun serta memberikan pengetahuan tentang spesies dugong dan padang lamun kepada masyarakat.

Sosialisasi ini secara simbolis dibuka oleh Kepala UPTD PPP sekaligus penyampaian dukungan kepada Pemerintah sebagai Instansi Kelautan dan Perikanan yang berada di Kep. Mentawai, beliau menyampaikan, “ UPTD PPP Sikakap akan terus berupaya melakukan pengawasan dan perlindungan jenis dengan melakukan konservasi, apalagi saat ini UPTD PPP Sikakap akan bertambah fungsinya yaitu melakukan kegiatan konservasi”, ucap wawa pada saat memberikan materi, kemudian lanjut beliau, UPTD PPP Sikakap akan mengusulkan ke Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat agar lokasi tempat perburuan dugong yang ada di sikakap akan di jadikan kawasan konservasi yang bisa mendatangkan efek perekonomian bagai nelayan setempat.

kemudian acara dilanjutkan pengarahan sekaligus materi terkait kebijakan pemerintah mengenai biota yang dilindungi oleh kasubdit pelestarian dan perlindungan jenis KKHL KKP RI. Beberapa kebijakan yang di sampaikan terkait kebijakan pemerintah mengenai konservasi dugong ini adalah UU No. 5 /1990 : “Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya”, UU No. 31/2004 : “Perikanan” jo UU No. 45 Tahun 2009, Keppres  No. 43 tahun 1978 (Ratifikasi CITES), PP 7/99 : “Pengawetan Tumbuhan dan Satwa”, PP 8/99 : “Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar”, PP  No. 60/2007 : “Konservasi SDI”, KepmenHut No.443/Kpts-II/2003 : “T U  Pengambilan / Penangkapan dan Peredaran TSL, PermenKP No.49/2016 “ Tata Cara Penetapan Status Perlindungan Jenis Ikan”, PermenKP No.4/2010 “Tata Cara Pemanfaatan Jenis Ikan dan Genetik Ikan. Menurut beliau spesies dugong  termasuk dalam APPENDIKS I artinya dugong termasuk jenis yang telah terancam punah dan dilarang diperdagangkan kecuali hasil pengembangbiakan F2. Status keanekaragam hayati laut Indonesia lanjut beliau adalah 450 spesies  Karang, 3476 Spesies Ikan Laut, 13 Spesies Lamun, 48 Spesies Mangrove, 309 Spesies Krustasea, 6 Spesies  Penyu, 35 Spesies Mamalia Laut, 221 Spesies Hiu dan Pari.

Selajutnya penyampaian materi oleh Dugong And Seagrass Consevation Project (DSCP-Indonesia) oleh Bapak Setiono. Beberapa hal yang disampaikan terkait dugong dan padang lamun adalah konservasi dugong dan padang lamun harus di tingkatkankan untuk menghindari kepunahan. Konservasi telah menjadi tuntutan dan kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai harmonisasi atas kebutuhan ekonomi masyarakat dan keinginan untuk terus melestarikan sumber daya yang ada bagi masa depan. Upaya konservasi dugong dan habitatnya lamun dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerja sama dengan WWF, LIPI dan IPB didukung oleh lembaga internasional, yaitu United Nation Environment Programme-Conservation Migratory Species (UNEP-CMS) yang bekerja sama dengan Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund (MbZ),

Di akhir kegiatan KKHL KKP RI memberikan secara simbolis rencana aksi kegiatan konservasi yang di serahkan kepada perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat dan Kabupaten Kepulauan Mentawai serta penyerahan secara simbolis media informasi sosialisasi spesies dugong oleh BPSPL padang kepada perwakilan nelayan setempat yang di saksikan oleh para penegak hukum, MUSPIKA dan masyarakat setempat.

Selanjutnya pembuatan rumusan kesepakatan dukungan terhadap konservasi dan pengelolaan biota perairan yang dilindungi dan terancam punah di kabupaten kepulauan mentawai yang di pandu oleh KKHL KKP-RI. Beberapa kesepakatan yang di sepakati adalah

  1. Konservasi jenis ikan yang dilindungi dan terancam punah bertujuan untuk melindungi jenis ikan, mempertahankan keanekaragaman jenisnya, memelihara keseimbangan dan kemantapan ekosistemnya serta memanfaatkan sumber daya ikan secara berkelanjutan.
  2. Upaya konservasi dan pengelolaan jenis ikan yang dilindungi dan terancam punah sejalan dengan upaya konservasi kawasan yang merupakan habitat dan wilayah migrasi ikan yang dilindungi dan terancam punah, sehingga perlu diinisiasi kawasan konservasi dugong di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
  3. Dalam rangka konservasi dan pengelolaan jenis ikan yang dilindungi dan terancam punah, pemerintah daerah dan para pihak (penegak hukum, masyarakat pesisir dan nelayan) yang hadir, memahami dan sadar tentang jenis-jenis ikan yang dilindungi, peraturan perlindungannya dan sanksi yang tercantum di dalamnya.
  4. Pemerintah daerah dan para pihak yang hadir memahami bahwa merusak alam dan ekosistemnya akan berdampak buruk tidak hanya bagi biota terancam punah tetapi bagi kehidupan manusia. Salah satu dukungan dari para pihak adalah untuk tidak melakukan kegiatan yang merusak alam dan ekosistemnya, yang salah satunya adalah ekosistem padang lamun.
  5. Pemerintah daerah dan masyarakat serta pemangku kepentingan yang hadir menyatakan dukungannya terhadap program konservasi dan pengelolaan jenis ikan yang dilindungi beserta habitatnya, yang salah satunya adalah dugong/duyung atau bahasa lokalnya adalah Sakoilok koat dan padang lamun sebagai habitat mencari makannya.
  6. Bahwa perlu dilakukan program identifikasi penyebaran dugong dan habitatnya di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
  7. Perlu adanya program pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan mata pencaharian alternatif.

 

by : Cici Anggara,S.Pi